Outlined Text Generator at TextSpace.net
Elephant Traffic
1,000 Backlinks - $9.99

Sejarah Gedung Sumpah Pemuda

Written By pepz32 on Sabtu, 22 Oktober 2011 | 18.00






Kronologis waktu perkembangan Gedung Sumpah Pemuda



Commensalen Huis, 1908

Indonesische Clubhuis/Clubgebouw, 1927

Gedung Sumpah Pemuda, 1928

Rumah Tinggal, 1934 � 1937

Toko Bunga, 1937 � 1948

Hotel Hersia, 1948 � 1951

Kantor Inspektorat Bea&Cukai, 1951 � 1970

Museum Sumpah Pemuda, 1973 � Sekarang



Commensalen Huis, 1908

Menurut catatan yang ada, Museum Sumpah Pemuda pada awalnya adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang. Gedung didirikan pada permulaan abad ke-20. Sejak 1908 Gedung Kramat disewa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechtsschool) sebagai tempat tinggal dan belajar. Saat itu dikenal dengan nama Commensalen Huis. Mahasiswa yang pernah tinggal adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.



Indonesische Clubhuis/Clubgebouw, 1927

Sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan. Bung Karno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir di Gedung Kramat 106 untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni Gedung Kramat 106. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, PPPI. Gedung ini juga menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI. Mengingat digunakan berbagai organisasi, maka sejak tahun 1927 Gedung Kramat 106 yang semula bernama Langen Siswo diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan).



Gedung Sumpah Pemuda, 1928

Pada 15 Agustus 1928, di gedung ini diputuskan akan diselenggarakan Kongres Pemuda Kedua pada Oktober 1928. Soegondo Djojopuspito, ketua PPPI, terpilih sebagai ketua kongres. Kalau pada Kongres Pemuda Pertama telah berhasil diselesaikan perbedaan-perbedaan sempit berdasarkan kedaerahan dan tercipta persatuan bangsa Indonesia, Kongres Pemuda Kedua diharapkan akan menghasilkan keputusan yang lebih maju. Di gedung ini memang dihasilkan keputusan yang lebih maju, yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda.



Rumah Tinggal, 1934-1937

Setelah peristiwa Sumpah Pemuda banyak penghuninya yang meninggalkan gedung Indonesische Clubgebouw karena sudah lulus belajar. Setelah para pelajar tidak melanjutkan sewanya pada tahun 1934, gedung kemudian disewakan kepada Pang Tjem Jam selama tahun 1934 � 1937. Pang Tjem Jam menggunakan gedung itu sebagai rumah tinggal.


Toko Bunga, 1937-1948


Kemudian pada tahun 1937 � 1951 gedung ini disewa Loh Jing Tjoe yang menggunakannya sebagai toko bunga (1937-1948).


Hotel Hersia, 1948-1951


Dari tahun 1948 � 1951 gedung berubah fungsi menjadi Hotel Hersia.


Kantor Inspektorat Bea & Cukai, 1951-1970


Pada tahun 1951 � 1970, Gedung Kramat 106 disewa Inspektorat Bea dan Cukai untuk perkantoran dan penampungankaryawannya.


Museum Sumpah Pemuda, 1973-Sekarang


Pada tanggal 3 April 1973, Gedung Kramat 106 dipugar Pemda DKI Jakarta. Pemugaran selesai 20 Mei 1973. Gedung Kramat 106 kemudian dijadikan museum dengan nama Gedung Sumpah Pemuda.





Panitia Kongres Pemuda

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :



Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)

Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)

Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)

Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)

Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)

Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)

Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)

Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)

Pembantu V : Rochjani Soe�oed (Pemoeda Kaoem Betawi)



Tokoh Lainnya 


  • Soenario Adalah Pengacara yang aktif membela para aktifis kemerdekaan

  • WR Supratman Adalah Wartawan sekaligus pengarang , ia juga pandai bermain biola

  • S. Mangoensarkoro Tokoh bangsa yang berbicara di sumpah pemuda tentang pentingnya anak bangsa

  • Karto Soewirjo Aktivis Jong Islamieten Bond yang aktif dalam sumpah pemuda di kemudian hari

  • Kasman Singodimejo Perintis keberadaan pramuka di indonesia sekaligus 'bidan' lahirnya tentara nasional indonesia

  • Moh.Roem Aktivis mahasiswa hukum yang terbakar semangat nasionalismenya setelah mendapatkan perlakuan diskriminatif di sekolah Belanda.

  • A.K Gani Aktivis pemuda yang lahir di palembang yang bergerak dalam Jong Sumatra Bond

  • Sie Kong Liong Pemilik sebuah rumah di jalan kramat raya yang di jadikan kongres sumpah pemuda





Naskah asli sumpah pemuda


:






Moh Jamin ( M. Yamin)






Amir Sjarifuddin






Johanes Leimena




Soernio




WR.Supratman

sumber

0 komentar:

Posting Komentar

free counters